Pelangi

Oleh Krisna Diah pada 24 September 2011 jam 15:44

Dan disinilah aku, menanti hujan yang sebentar lagi kan datang. Mempersiapkan diri dengan sebaiknya. Tak pernah tau apa yang akan dibawa hujan padaku kali ini. Aku mendiam, melihat kedalam hatiku, kedalam diriku. Mengacak-acak pikiran yang telah mengundang hujan ini hingga akupun lelah karena semua yang diluar diriku tak lagi mampu menjadi yang tersambut. Menanti yang bukan didalam diri kita cukup menyesakan tapi disitulah kita berlatih kesabaran dan keteguhan.

Mungkin hanya pikiranku saja yang melayang-layang tak tentu arah malam ini. Menanyakan kebodohan diri “bukankah sudah pernah datang hal seperti dalam hidupmu?. Lalu sekarang, bukankah seharusnya kau menjadikan itu suatu pengalaman yang sudah pernah terjadi dan membawamu pada kebaikan yang seharusnya kau raih? “

Akupun tak mengerti.

Yang kulakukan hanyalah melihat apa yang menyebabkan hujan itu datang padakau. Jika itu kesalahanku, memang itulah kesalahanku yang tak pernah terketahui sebelah hatiku yang lain. Yang menolak menerimanya namun tak pernah didengar seruanya, yang menjadikan diri seharusnya lebih cepat bertindak menghadapi apa yang ada.

Aku, hanya melihat apa yang tejadi dan dengan berat hati akupun menerimanya. Aku dengan tertatih telah mengalahkan gengsi didalam diri, kemunafikan hati yang ternyata tersembunyi selama ini. Menerimanya sebagai kesalahan diri dan menjadikanya pembelajaran berkelanjutan.

Kadang, kita hanya perlu menerima dengan lapang dan ikhlas atas apa yang telah terjadi. Kita tidak perlu menyalahkan pihak luar dengan kejadian itu. Kita juga tak perlu mencari2 lagi apa dan siapa yang bersalah. Ini hidup kita, kitalah yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa diri kita. Jika hujan itu datang, periksalah apa yang terjadi. Apakah ia sengaja dikirimkan untuk menguji, atau memang akibat dari perbuatan kita.

Jika itu akibat dari perbuatan kita maka akui saja walau hanya diri dan Allah yang tau. Katakan saja pada malam yang menjadi tempat mengadu berjuta2 orang didunia ini. Hanya saja, tidak mudah mengakui sesuatu yang setelah diselidiki ternyata memang kesalahan kita, apalagi tanpa kita sadari bahwa kita melakukan kesalahan itu. Sungguh, butuh keikhlasan hati untuk menerimanya. Suka atau tidak suka.

Dan bukankah, hujan itu datang untuk membersihkan dedaunan dari debu? Juga merupakan berkah dari Sang Maha Pencipta untuk membersihkan diri dan kembali padaNya?

Bukankah Dia juga yang menggerakan hati dan pikiranmu untuk melihat semua yang terjadi? Bukankah Dia yang menjadikanmu bersujud dan memohon ampun padaNya? Bukankah Dia juga yang telah memberikan pemahaman kedalam hati dan pikiranmu hingga kau bisa melihat apa yang sebelumnya tak nampak?

Allah lah yang Maha Penyayang dan mengembalikanmu dijalanNya dan menguatkan serta memberimu bekal untuk melewati waktu berikutnya.

SkenarioNya sungguh indah..melunturkan kesombongan hati yang tak terketahui, melumat salah satu sisi kemunafikan hati, semoga dosa terampuni..

Kalo percaya akan ada pelangi, sedikit hujan tidak akan menjadi masalah besar bukan?

Dan walaupun pelangi bisa dibuat tanpa hujan, bukankah lebih indah jika ada rintik2 yang menyertai?

Terimakasih untuk pelangi yang mulai mengintip di malam tadi..🙂 *wink

Aku ingin mencintaiMu setulusnya sebenar2 aku cinta dlam do’a, dalam ucapan, dalam setiap langkahku..

Aku mendekatiMu selamanya sehina apapun diriku, kuberharap untuk bertemu denganMu..Ya Rabbi..

(backsound; edcoustic-Aku ingin mencintaiMu setulusnya)

  Have a blessed day

      -Krisna-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: